Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 20 Maret 2013

Contoh Kejahatan Genosida dan Kejahatan Kemanusian



Contoh Kejahatan Genosida
“KASUS PELANGGARAN HAM YANG TERJADI DI MALUKU”

11Konflik dan kekerasan yang terjadi di Kepulauan Maluku sekarang telah berusia 2 tahun 5 bulan; untuk Maluku Utara 80% relatif aman, Maluku Tenggara 100% aman dan relatif stabil, sementara di kawasan Maluku Tengah (Pulau Ambon, Saparua, Haruku, Seram dan Buru) sampai saat ini masih belum aman dan khusus untuk Kota Ambon sangat sulit diprediksikan, beberapa waktu yang lalu sempat tenang tetapi sekitar 1 bulan yang lalu sampai sekarang telah terjadi aksi kekerasan lagi dengan modus yang baru ala ninja/penyusup yang melakukan operasinya di daerah – daerah perbatasan kawasan Islam dan Kristen (ada indikasi tentara dan masyarakat biasa).

Penyusup masuk ke wilayah perbatasan dan melakukan pembunuhan serta pembakaran rumah. Saat ini masyarakat telah membuat sistem pengamanan swadaya untuk wilayah pemukimannya dengan membuat barikade-barikade dan membuat aturan orang dapat masuk/keluar dibatasi sampai jam 20.00, suasana kota sampai saat ini masih tegang, juga masih terdengar suara tembakan atau bom di sekitar kota.

Akibat konflik/kekerasan ini tercatat 8000 orang tewas, sekitar 4000 orang luka – luka, ribuan rumah, perkantoran dan pasar dibakar, ratusan sekolah hancur serta terdapat 692.000 jiwa sebagai korban konflik yang sekarang telah menjadi pengungsi di dalam/luar Maluku.

Masyarakat kini semakin tidak percaya dengan dengan upaya – upaya penyelesaian konflik yang dilakukan karena ketidak-seriusan dan tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyelesaian konflik, ada ketakutan di masyarakat akan diberlakukannya Daerah Operasi Militer di Ambon dan juga ada pemahaman bahwa umat Islam dan Kristen akan saling menyerang bila Darurat Sipil dicabut.

Banyak orang sudah putus asa, bingung dan trauma terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di Ambon ditambah dengan ketidak-jelasan proses penyelesaian konflik serta ketegangan yang terjadi saat ini.

Komunikasi sosial masyarakat tidak jalan dengan baik, sehingga perasaan saling curiga antar kawasan terus ada dan selalu bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang menginginkan konmflik jalan terus. Perkembangan situasi dan kondisis yang terakhir tidak ada pihak yang menjelaskan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi sehingga masyrakat mencari jawaban sendiri dan membuat antisipasi sendiri

“KASUS ANTAR SUKU DI SAMBAS, KALIMANTAN BARAT”
Tampaknya agama dan suku sering menjadi pemicu meletusnya konflik dan kerusuhan di Indonesia. Tak peduli dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu kita orang Indonesia. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pun tak melekat dalam hati. Dan inilah yang terjadi di Sambas, Kalimantan Barat. Dimana telah terjadi kerusuhan besar antar suku yang menyebabkan banyaknya jatuh korban jiwa di Sambas (1970-1999). Sekali lagi HAM telah dinodai. Kerusuhan Sambas merupakan peristiwa pecahnya pertikaian antar etnis pribumi dengan pendatang, yakni suku Dayak dengan Madura yang mencapai klimaks pada tahun 1999.

Akibat pertikaian tersebut, data menyebutkan terdapat 489 orang tewas, 202 orang mengalami luka berat dan ringan, 3.833 pemukiman warga diobrak-abrik dan dimusnahkan, 21 kendaraan dirusak, 10 rumah ibadah dan sekolah dirusak, dan 29.823 warga Madura mengungsi ke daerah yang lebih aman.

Contoh Kejahatan Kemanusiaan
“ibu bunuh anak”

Seorang ibu kandung, Susilawati (23) tega membunuh anaknya yang baru dilahirkan di Desa Kadu RT 01/01 Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang."Dugaan sementara, ibu kandung korban sebagai pelaku utama," kata Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Curug, Ajun Komisaris Sutarlan di Tangerang, Rabu (11/2).
Sutarlan mengatakan, modus pembunuhan yang dilakukan ibu kandung tersebut dengan cara memasukkan bayi ke dalam sumur setelah proses melahirkan. Sutarlan menuturkan, tersangka juga diduga mengalami depresi berat yang berlatar belakang kesulitan ekonomi, sehingga tega membunuh anak kandungnya.
Pengungkapan kasus berawal saat salah seorang warga melihat sebuah benda terapung di sumur tua yang sudah tidak digunakan dan berada di belakang rumah tersangka. Setelah diamati ternyata benda tersebut tubuh bayi yang baru dilahirkan dalam kondisi tidak bernyawa dan terapung di permukaan air sumur.
Sutarlan mengatakan, dugaan sementara ibu kandungnya sebagai pelaku pembunuhan berdasarkan keterangan saksi dari suami tersangka Muhammad Syarifudin (27) dan sejumlah tetangga tersangka. Namun demikian, pihak Polsek Curug akan memastikan motif dan pelaku pembunuhan tersebut setelah ibu kandung korban selesai menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang.
Sutarlan menuturkan berdasarkan keterangan Syarifudin, bapak korban tersebut sempat merasakan kejanggalan karena perut istrinya yang sedang membuncit karena hamil tua mendadak terlihat hilang. Syarifudin sempat mendesak istrinya untuk memberikan keterangan ke mana calon anak ketiga yang di dalam perut istrinya.

“Kasus Pembunuhan Pekerja PBB Oleh Demonstran Di Afganistan”

TEMPO Interaktif, Mazar-e-Sharif – Tujuh pekerja PBB tewas dibunuh di Mazar-e- Sharif, Afganistan. Dua di antaranya dipenggal oleh demonstran yang protes pembakaran Al-Quran di gereja Florida, Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan harian The Telegraph, Sabtu (2/4), korban serangan paling keji kepada pekerja PBB itu termasuk lima petugas keamanan dari Nepal, dan pekerja sipil dari Norwegia, Swedia, dan Rumania. Dalam peristiwa itu, selain pekerja PBB, empat penduduk lokal juga ikut terbunuh.
Pejabat PBB kepada Daily Telegraph menyatakan jumlah korban kemungkinan bertambah hingga 20 orang. Dalam peristiwa itu, beredar kabar bahwa seorang Kepala Asisten Militer PBB juga ikut terluka. Namun kabar ini belum dapat dipastikan. Penduduk setempat menyatakan sekitar 2.000 orang demonstran menyerang penjaga keamanan PBB di luar Unama. Demonstran merampas senjata mereka, lalu menggunakannya untuk menembaki polisi.
Juru bicara Kepolisian menyatakan pendemo memenggal kepala dua penjaga keamanan dan menembak penjaga lainnya. Mereka kemudian mendorong tembok anti-pelindung ledakan untuk menjatuhkan menara keamanan lalu membakar gedung.
Para pendemo mulai berkumpul ketika sejumlah pemimpin agama di masjid di pusat kota mendesak para jemaah meminta PBB mengambil langkah dalam peristiwa pembakaran Al-Quran yang dilakukan pendeta Wayne Sapp di Gainesville Florida pada 20 Maret 2011 lalu.
Sekretaris Jenderal PBB Ban-Ki-Moon menyatakan tindakan para pendemo itu merupakan perilaku yang memalukan dan pengecut. Sementara Presiden Amerika Serikat Barrack Obama mengutuk tindakan itu.

ads

Ditulis Oleh : lukman nurhakim Hari: 01.49 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar